Thursday, August 4, 2011

Awal Romadhon

Alhamdulillah anak-anak sudah bertambah besar. Kalau puasa sudah tidak perlu menyuruh, merayu dsb.  Hanya si Idho masih kadang males bangun sahur. emboknya ini yang harus keluar masuk kamar menyediakan makanan.  Sekarangpun sudah ada kemajuan.  Ia mau makan sendiri.  Tahun lalu masih disuapi.  Jadi masih dengan mata merem dia makan sahur.  
Seperti biasa, aku berusaha membuat makanan yang bervariasi agar anak-anak semangat.  Hari pertama, jelly saja karena aku harus ke Malang.  Hari ke dua es krim.  Hari ke tiga, karena ada waktu luang pagi hari, kusempatkan membuat apple pie.  Sukses pie-nya, sukses pula memecahkan loyang kacanya.  memang itu loyang murah sih.  Tapi lumayan, dia sudah bertugas banyak kali. dari pie, makaroni schotel, jelly, sampai ayam tim.  Sudah waktunya pensiun.  Pecah simetris jadi dua.


Saturday, July 16, 2011

Buku...Buku...

Awal semester adalah waktunya investasi.  Bagaimana tidak!  Anak-anak terutama Idho yang di sekolah swasta harus beli buku baru.  Buku kakaknya, yang sengaja kusimpan barangkali bisa diwariskan ternyata tidak berguna sama sekali.  Beda benar dengan waktu kita sekolah dulu.  Bukunya cukup satu bisa turun temurun sampai tujuh sodara.
Akhirnya, karena harus beli juga, keputusan agak belakangan.  Akibatnya adalah, Idho belum masuk daftar pembeli buku.  Jadinya kami ortu harus datang dan menunjukkan bukti kuitansinya agar sianak bisa ambil jatahnya.  Akibat sistem informasi kurang lancar.
Kalau Ais, ada buku yang dipinjami, ada yang harus beli.  Ya sudah, beli ajah.  Sekalian besok disampuli bareng-bareng.
Topik lain nih.
Sampai segede ini, Idho masih juga sering berantem dengan temannya.  Setiap pagi, setiap berangkat sekolah, kutanya, apakah kemarin berantem dengan temannya, dia jawab iya.  Idho memang agak temperamental.  Kedua anakku kadang tidak atau belum bisa membedakan mana yang guyon mana yang beneran.  Atau mereka menganggap semuanya serius, sehingga digoda temannya sudah dianggap mengganggu. 
Kalau Ais sih sudah sedikit bisa, tapi kadang, pernyataan guyonku pun ditanggapi serius. 
Yang masih menjadi peer bagi kami ortu dan guru adalah si Idho yang sejak dua tahun lalu terindikasi temperamental.
Ohya, Ais sekarang agak kasihan.  Behelnya hilang empat biji waktu liburan kemarin.   Waktu seharusnya datang ke dokter untuk perawatan, ayahnya tidak segera melaksanakannya dan si anak juga asyik liburan di Jombang. Begitu datang ke dokter, terpaksa kawatnya belum dipasang lagi.  Kata Om Ari dokternya, harus dibelikan lagi baru dan biasanya tidak dijual satuan, jadi harus satu set.  Waduh... habis berapa lagi nih?  Waktu kutanya, si dokter belum menjawab je...
Yang lucu adalah cita-cita Idho.  Kemarin hari pertama sekolah, dia diminta mencari gambar cita-citanya, dan ternyata cita-cita Idho saat ini adalah sebagai.... Binaragawan.
Waktu ku tanya, mengapa?
Ternyata karena terinspirasi kerjabakti yang dilakukannya waktu liburan kemarin.  Memang, Idho dengan penuh semangat membantu membersihkan rumput dan tanaman liar di depan rumah selama dua hari.
Waktu kuingatkan dengan hobbynya terhadap science, jawabnya... jadi ilmuwan kan juga harus kuat, menangkap ular, berjalan di hutan kan juga butuh tenaga...
Mau bilang apa lagi, aku???


Tuesday, July 12, 2011

Kehebohan Awal Sekolah

Biasalah, setiap hari awal sekolah ada sedikit kehebohan.  Untuk mengantisipasi itu, kebiasaan-kebiasaan buruk harus dicegah, seperti misalnya Idho kalau dibangunkan pagi suka rewel.  Istilahnya "ehek-ehek".  makanya malam hari sebelum tidur, Idho sudah diwanti-wanti, "Idho sudah kelas 5, kalau dibangunkan pagi dilarang ehek-ehek. 
Hasilnya, efektif.  idho bangun dengan anggun, tanpa rewel dan ehek-ehek.
Kehebohan lain adalah penjemputan.  Berhubung hari ini aku juga harus ke Malang, makanya antar akan dilakukan oleh ayahnya, jemputnya itu yang heboh.  Agaknya Dilla, yang biasa kuminta njemput anak gak sadar kalau hari ini mulai sekolah,  Dia terlanjur merelakan sepeda motornya dibawa bojonya.  Bingung deh, siapa yang harus nyusul.  Pak De juga harus ke Jombang.  Akhirnya, ayahnya yang jemput.  Sayangnya, terjadi kebingungan beliou ketika mencari Ais, anaknya gak menerima panggilan HP.  Syukurlah akhirnya, si anak sendiri yang menghubungi ayahnya untuk minta dijemput.  Karena ayahnya sudah berada di sekitar sekolah, makanya cepet ketemu.  Si Ais malah kaget sendiri.
Seperti biasa, di sekolah Idho ada penerbangan segerombolan balon menandai penerimaan siswa baru kelas I SD.  Kata Idho, tidak semua balon bisa melambung sempurna.  Ada yang jadi buah katanya, karena nyantol di pohon.  Idho telah mengalaminya 5 tahun yang lalu.  Alhamdulillah anak-anakku sudah bertambah besar.
Yang harus dipelajari Idho adalah bagaimana menahan diri agar menggunakan uang sesuai peruntukan.  Kemarin dia diberi ayahnya uang untuk beli badge sekolah.  Karena itu sudah termasuk pada paket buku, uang jadi gak kanggo.  Nah kalau sudah begini, uang langsung dibelanjakan untuk jajan.  sudah berkali-kali Idho diberitahu bahwa kalau uang untuk sesuatu, tidak boleh untuk sesuatu yang lain, tapi dia masih belum bisa mengerem keinginan untuk jajannya.  Yah harus belajar terus.

Sunday, July 10, 2011

Persiapan Kembali keSekolah

Besok senin anak-anak akan masuk sekolah kembali di kelas yang lebih tinggi.  Informasinya, Ais akan tetap sekelas dengan teman-teman di kelas satunya, bahkan nanti kelas tigapun tetep. hih, gak ada perkembangan dong.
Ternyata Idho juga begitu, teman sama, wali kelas sama.
Berbekal pengalaman tahun lalu yang terlalu excited karena Ais masuk SMPN yang notabene memberi peluang untuk penghematan, maka sebelum masuk sekolah, buku pelajaran sudah dibeli terlebih dahulu, bahkan termasuk buku tambahannya.  Ternyata oh ternyata, di sekolah Ais ada fasilitas pinjaman buku wajib.  Itu tuh, buku math, IPA dan Bhs Indonesia.  pake yang BSE lagi.  BSE itu buku elektronik yang sudah disediakan oleh pemerintah.  kalau mau gratis silakan download tapi kalau males, beberapa penerbit juga telah mencetaknya.  Harganya sangat murah.  Karena Ais sudah beli dulu, akhirnya dobel deh.  Saking semangatnya pula, Ais beli buku IPA Kimia, IPA Fisika, IPS Geografi DSB, yang ternyata, gak kanggo blash!! Itu hanya tambahan.  Pelajaran SMP ya masih generik, tidak spesifik seperti SMA.
Tahun ini enggak lah.
Meskipun demikian, untuk kemudahan anak, Ais tetep beli buku.  Dikit.
Kalau Idho lain lagi.  Sudah beberapa tahun ini sekolahnya membuatku jengkel karena kami ortu murid serasa ditembak disuruh bayar apapun yang disodorkan sekolah tanpa tawar, tanpa informasi yang cukup.  Masalahnya, dari tahun ke tahun ada beberapa buku yang tetap tidak digunakan dengan maksimal, tetapi kami harus membeli, tanpa pilihan.  Kemarin terpikir mau gak beli aja.  Beli diluar gitu.  Tapi karena dalam paket buku itu ada buku yang tidak ada di pasaran, jadinya takut juga kalau nanti Idho gak punya.  Anaknya bisa protes se protes-protesnya.  Makanya akhirnya beli juga

Sunday, July 3, 2011

LIburan

Waduh, janjiku mau silaturahim ke sanak sodara di Tulungagung waktu liburan tidak terlaksana.  Awal liburan, aku dapat job ngajar di luar kota.  Lumayan, pikirku bisa nambah uang saku.  Tetapi setelah ngajar, aku teler berat.  Nggreges, adem panas.  Ditambah beberapa sanak sodara di Surabaya sendiri juga ada musibah.  Bude Mur yang dulu momong Ais, meninggal dunia, Opa masuk rumah sakit, Anaknya Heru juga masuk rumah sakit. Yah, silaturahimnya dialihkan ke sanak sodara terdekat dulu.
Jadinya, kasihan si Idho, gak bisa kemana-mana, karena ia mabukkan.  Aku gak tega kalau ia ikut ke Jombang seperti Ais kalau tidak didampingi.  Ais sendiri ikut ke Jombang karena di Simo tidak ada yang ngramut, semua diungsikan ke Jombang.  Ais katut. Wis babah.

Tuesday, June 28, 2011

Foto yang tertinggal

di stasiun Salak Tinggi 
Stasiun Salak Tinggi, menghubungkan terminal LCCT dengan Kuala Lumpur dengan menggunakan kereta api express yang boleh dikata bagus dan cepat.  harga tiket RM12.5 dewasa dan RM 9 untuk anak-anak.  Pada mulanya, aku membelikan Ais tiket dewasa karena dia sudah 13 tahun.  Tapi lama-lama kok dirasa, dia gak dipermasalahkan kekanakannya, jadi akhirnya beli tiketnya pake tarif anak-anak (dasar Indon).  Untuk mencapai stasiun ini, kalau dari LCCT harus pake bus shuttle (gratis) dulu.  Tapi kalau dari KLIA bisa langsung.  Jadi ya maklum.  Ono rego ono rupo.  di LCCT everywhere should be walking, he...he...  
Turun pesawat, mau masuk ke terminal, jalan kaki mungkin hampir satu kilo.  Makanya yang naik AirAsia yo harusnya kakinya kuat..he...he...  Trus ke KL kalau mau naik kereta cepat harus naik bus dulu.  Iya kalau back packers, karena bawa anak-anak kami adalah big luggages packer.  Naik turun kendaraan bawa dua koper besar, ibu-ibu dan anak-anak kecil.  Alhamdulillah kami termasuk manol!!

Libur Telah tiba

anak-anak punya kinerja bagus.  Ais nilainya meningkat dibanding semester satu.  Alhamdulillah.  Idho, meskipun kelihatannya rankingnya turun, kalau dulu ranking dua sekarang ranking tiga, aku tetap bersyukur.  sebagai pendidik, aku tidak menekankan harus ranking dsb, yang penting sudah berusaha dengan baik dan punya nilai yang tidak mengecewakan.  Maklum, kita di Indonesia.  Faktor nilai tetap harus diperhatikan.  Ranking pertama di kelas Idho tetap dipegang di Radith putranya pak Budi.  Hebat keluarga Pak Budi itu.  Kakaknya Radith, si Amanda EA yang juga temannya Ais juga prestasinya bagus.  Diangkatannya, dia satu-satunya alumnus SD Alfalah Tropodo yang masuk di SMPN I Sidoarjo.
Tapi, anak-anakku  yo alhamdulillah tidak mengecewakan.  Yang aku kecewakan malah reaksi bapaknya yang kurang puas (kalau perkara nilai selalu ia tidak puas deh).  
"Mestinya bisa lebih tinggi!"  "Kenapa kok cuma segitu?"  
Hah, aku, emaknya anak-anak jadi ikut sewot.  Soalnya selama proses belajar si Bapak juaaarang mau datang sore dan nungguin anak-anak belajar.  Lah kalau belajar gak ditungguin, langsung minta hasilnya baik, ya maaf.  Kalau mau anaknya baik, ya harus dididik.
Ah... sudahlah.  Kami berdua kadang punya pemikiran beda tentang bagaimana mendidik anak-anak.  Ya biasalah, namanya dua kepala, pasti ada yang tidak sama.  Terutama tentang bagaimana menghadapi ujian-ujian anak-anak.  Suami mungkin sudah terlanjur punya stigma bahwa nilai sangat penting dan di daerah Sidoarjo itu bobrok manajemen pendidikannya, ia lebih condong pake cara cepat (instant).  Masukkan anak ke Bimbel, nanti nilainya akan bagus.  Sementara aku lebih percaya pada proses dan pembangunan karakter anak, lebih pilih anak harus belajar memahami sedikit demi sedikit ditambah dengan kejujuran dan tentu saja doa, berhadap anak-anak benar-benar mendapat ilmu yang barokah dan manfaat sehingga dapat dipegang sampai nanti.  Makanya, kalau di SD aku bersikeras memasukkan anak di SD Islam, karena aku percaya bahwa pendidikan dasar haruslah pendidikan karakter yang mengedepankan kerja keras dan kejujuran.  Aku berniat memasukkan Ais ke Bimbel karena aku sudah tidak paham lagi ilmunya.  Ya sudah lah.  Semoga tercapai.  Kami berusaha yang terbaik.  Semoga ilmu yang diperoleh anak-anak kami nantinya bermanfaat dan membimbing mereka ke jalan yang diridhoi Allah SWT, Amiien.
Sekarang, liburan telah tiba.  Ais ke Jombang, Idho di rumah.  Ini karena aku gak tega.  Idho kalau naik kendaraan mabuk berat.  dari Sedati ke Nginden, waktu ikut pengajian kemarin saja ia muntah 4 kali.  Pulangnya 2 kali.  Kalau ke Jombang naik mobil tanpa aku, bisa teler berat gak keramut nantinya.  Ya sudah.  waktu puasa di rumah kami mamfaatkan untuk nyaur utang puasa dua hari.  Hari pertama, Idho pusing jadi puasa bedhug.  Wis gapapa.  Hari ini InsyaAllah kami puasa lagi, mudah-mudahan bisa kuat sampai maghrib.
Ohya.  Rencana ke TulungAgung masih belum terlaksana.  Aku agak sakit.  Biasa habis dapat proyek yang menyita energi.  Selain itu banyak cobaan juga.  Budhe Mur yang dulu mengasuh Ais waktu kecil tiba-tiba dikabarkan wafat.  Sakitnya sudah lama, tapi akhir-akhir ini tidak ada kabar trus meninggal.  Semoga arwah beliau ditempatkan sesuai amalnya.  Opa (mertua) juga sakit.  Sekarang masih di RS.  Jadi Ais ke Jombang itu karena ikut mengungsi Hanin dan Fiyan sepupunya karena gak ada yang ngramut.  Nenek jaga opa di RS, tante Emma lagi Umroh.  Makanya diungsikan ke Jombang ke tante Ita.  Ais yang kebetulan ada di rumah nenek, katut juga.