Showing posts with label belajar kelompok. Show all posts
Showing posts with label belajar kelompok. Show all posts

Tuesday, June 28, 2011

Libur Telah tiba

anak-anak punya kinerja bagus.  Ais nilainya meningkat dibanding semester satu.  Alhamdulillah.  Idho, meskipun kelihatannya rankingnya turun, kalau dulu ranking dua sekarang ranking tiga, aku tetap bersyukur.  sebagai pendidik, aku tidak menekankan harus ranking dsb, yang penting sudah berusaha dengan baik dan punya nilai yang tidak mengecewakan.  Maklum, kita di Indonesia.  Faktor nilai tetap harus diperhatikan.  Ranking pertama di kelas Idho tetap dipegang di Radith putranya pak Budi.  Hebat keluarga Pak Budi itu.  Kakaknya Radith, si Amanda EA yang juga temannya Ais juga prestasinya bagus.  Diangkatannya, dia satu-satunya alumnus SD Alfalah Tropodo yang masuk di SMPN I Sidoarjo.
Tapi, anak-anakku  yo alhamdulillah tidak mengecewakan.  Yang aku kecewakan malah reaksi bapaknya yang kurang puas (kalau perkara nilai selalu ia tidak puas deh).  
"Mestinya bisa lebih tinggi!"  "Kenapa kok cuma segitu?"  
Hah, aku, emaknya anak-anak jadi ikut sewot.  Soalnya selama proses belajar si Bapak juaaarang mau datang sore dan nungguin anak-anak belajar.  Lah kalau belajar gak ditungguin, langsung minta hasilnya baik, ya maaf.  Kalau mau anaknya baik, ya harus dididik.
Ah... sudahlah.  Kami berdua kadang punya pemikiran beda tentang bagaimana mendidik anak-anak.  Ya biasalah, namanya dua kepala, pasti ada yang tidak sama.  Terutama tentang bagaimana menghadapi ujian-ujian anak-anak.  Suami mungkin sudah terlanjur punya stigma bahwa nilai sangat penting dan di daerah Sidoarjo itu bobrok manajemen pendidikannya, ia lebih condong pake cara cepat (instant).  Masukkan anak ke Bimbel, nanti nilainya akan bagus.  Sementara aku lebih percaya pada proses dan pembangunan karakter anak, lebih pilih anak harus belajar memahami sedikit demi sedikit ditambah dengan kejujuran dan tentu saja doa, berhadap anak-anak benar-benar mendapat ilmu yang barokah dan manfaat sehingga dapat dipegang sampai nanti.  Makanya, kalau di SD aku bersikeras memasukkan anak di SD Islam, karena aku percaya bahwa pendidikan dasar haruslah pendidikan karakter yang mengedepankan kerja keras dan kejujuran.  Aku berniat memasukkan Ais ke Bimbel karena aku sudah tidak paham lagi ilmunya.  Ya sudah lah.  Semoga tercapai.  Kami berusaha yang terbaik.  Semoga ilmu yang diperoleh anak-anak kami nantinya bermanfaat dan membimbing mereka ke jalan yang diridhoi Allah SWT, Amiien.
Sekarang, liburan telah tiba.  Ais ke Jombang, Idho di rumah.  Ini karena aku gak tega.  Idho kalau naik kendaraan mabuk berat.  dari Sedati ke Nginden, waktu ikut pengajian kemarin saja ia muntah 4 kali.  Pulangnya 2 kali.  Kalau ke Jombang naik mobil tanpa aku, bisa teler berat gak keramut nantinya.  Ya sudah.  waktu puasa di rumah kami mamfaatkan untuk nyaur utang puasa dua hari.  Hari pertama, Idho pusing jadi puasa bedhug.  Wis gapapa.  Hari ini InsyaAllah kami puasa lagi, mudah-mudahan bisa kuat sampai maghrib.
Ohya.  Rencana ke TulungAgung masih belum terlaksana.  Aku agak sakit.  Biasa habis dapat proyek yang menyita energi.  Selain itu banyak cobaan juga.  Budhe Mur yang dulu mengasuh Ais waktu kecil tiba-tiba dikabarkan wafat.  Sakitnya sudah lama, tapi akhir-akhir ini tidak ada kabar trus meninggal.  Semoga arwah beliau ditempatkan sesuai amalnya.  Opa (mertua) juga sakit.  Sekarang masih di RS.  Jadi Ais ke Jombang itu karena ikut mengungsi Hanin dan Fiyan sepupunya karena gak ada yang ngramut.  Nenek jaga opa di RS, tante Emma lagi Umroh.  Makanya diungsikan ke Jombang ke tante Ita.  Ais yang kebetulan ada di rumah nenek, katut juga.

Monday, November 22, 2010

Ais dan Kegiatannya

Banyak juga yang aku ingin tulis tentang anak perempuanku ini. Sekolahnya sih lancar-lancar saja. Ia tiap hari berangkat diantar ayah atau ibu sambil berangkat kerja, pulangnya dijemput mbak Dilla. Kalau Sabtu, ini yang agak repot. Pagi ikut PMR dan sore ikut Pramuka. Masalahnya, Ais belum bisa berangkat sendiri. Salahku juga sih kenapa tidak segera diajari naik bemo agar bisa berangkat dan pulang sendiri. Belum lagi kalau belajar bersama.
Sebagai anak remaja, Ais masih kurang bisa menentukan mana yang penting dan mana yang kurang penting. Ia dengan gampang meninggalkan kegiatan ekskul dan mengiyakan ajakan temannya untuk kerja kelompok yang mestinya bisa dilakukan diluar jam ekskul. Ais juga kurang bergaul dan kurang tanggap. Mungkin karena ada sedikit gangguan otak. Aku ingat waktu lahir dulu dia disedot. Aku gak tahu apakah itu yang membuatnya sedikit kurang sensitif terhadap lingkungan. Itulah juga yang mengkhawatirkan aku jika ia kulepas sendiri naik bemo ke sekolah misalnya. Ya Allah, jagalah anak-anak hamba. Semoga Ais dan Idho menjadi manusia yang berguna. Amien

ini gambar Ais belajar kelompok di Bunderan Rewwin