Tuesday, June 28, 2011

Foto yang tertinggal

di stasiun Salak Tinggi 
Stasiun Salak Tinggi, menghubungkan terminal LCCT dengan Kuala Lumpur dengan menggunakan kereta api express yang boleh dikata bagus dan cepat.  harga tiket RM12.5 dewasa dan RM 9 untuk anak-anak.  Pada mulanya, aku membelikan Ais tiket dewasa karena dia sudah 13 tahun.  Tapi lama-lama kok dirasa, dia gak dipermasalahkan kekanakannya, jadi akhirnya beli tiketnya pake tarif anak-anak (dasar Indon).  Untuk mencapai stasiun ini, kalau dari LCCT harus pake bus shuttle (gratis) dulu.  Tapi kalau dari KLIA bisa langsung.  Jadi ya maklum.  Ono rego ono rupo.  di LCCT everywhere should be walking, he...he...  
Turun pesawat, mau masuk ke terminal, jalan kaki mungkin hampir satu kilo.  Makanya yang naik AirAsia yo harusnya kakinya kuat..he...he...  Trus ke KL kalau mau naik kereta cepat harus naik bus dulu.  Iya kalau back packers, karena bawa anak-anak kami adalah big luggages packer.  Naik turun kendaraan bawa dua koper besar, ibu-ibu dan anak-anak kecil.  Alhamdulillah kami termasuk manol!!

Libur Telah tiba

anak-anak punya kinerja bagus.  Ais nilainya meningkat dibanding semester satu.  Alhamdulillah.  Idho, meskipun kelihatannya rankingnya turun, kalau dulu ranking dua sekarang ranking tiga, aku tetap bersyukur.  sebagai pendidik, aku tidak menekankan harus ranking dsb, yang penting sudah berusaha dengan baik dan punya nilai yang tidak mengecewakan.  Maklum, kita di Indonesia.  Faktor nilai tetap harus diperhatikan.  Ranking pertama di kelas Idho tetap dipegang di Radith putranya pak Budi.  Hebat keluarga Pak Budi itu.  Kakaknya Radith, si Amanda EA yang juga temannya Ais juga prestasinya bagus.  Diangkatannya, dia satu-satunya alumnus SD Alfalah Tropodo yang masuk di SMPN I Sidoarjo.
Tapi, anak-anakku  yo alhamdulillah tidak mengecewakan.  Yang aku kecewakan malah reaksi bapaknya yang kurang puas (kalau perkara nilai selalu ia tidak puas deh).  
"Mestinya bisa lebih tinggi!"  "Kenapa kok cuma segitu?"  
Hah, aku, emaknya anak-anak jadi ikut sewot.  Soalnya selama proses belajar si Bapak juaaarang mau datang sore dan nungguin anak-anak belajar.  Lah kalau belajar gak ditungguin, langsung minta hasilnya baik, ya maaf.  Kalau mau anaknya baik, ya harus dididik.
Ah... sudahlah.  Kami berdua kadang punya pemikiran beda tentang bagaimana mendidik anak-anak.  Ya biasalah, namanya dua kepala, pasti ada yang tidak sama.  Terutama tentang bagaimana menghadapi ujian-ujian anak-anak.  Suami mungkin sudah terlanjur punya stigma bahwa nilai sangat penting dan di daerah Sidoarjo itu bobrok manajemen pendidikannya, ia lebih condong pake cara cepat (instant).  Masukkan anak ke Bimbel, nanti nilainya akan bagus.  Sementara aku lebih percaya pada proses dan pembangunan karakter anak, lebih pilih anak harus belajar memahami sedikit demi sedikit ditambah dengan kejujuran dan tentu saja doa, berhadap anak-anak benar-benar mendapat ilmu yang barokah dan manfaat sehingga dapat dipegang sampai nanti.  Makanya, kalau di SD aku bersikeras memasukkan anak di SD Islam, karena aku percaya bahwa pendidikan dasar haruslah pendidikan karakter yang mengedepankan kerja keras dan kejujuran.  Aku berniat memasukkan Ais ke Bimbel karena aku sudah tidak paham lagi ilmunya.  Ya sudah lah.  Semoga tercapai.  Kami berusaha yang terbaik.  Semoga ilmu yang diperoleh anak-anak kami nantinya bermanfaat dan membimbing mereka ke jalan yang diridhoi Allah SWT, Amiien.
Sekarang, liburan telah tiba.  Ais ke Jombang, Idho di rumah.  Ini karena aku gak tega.  Idho kalau naik kendaraan mabuk berat.  dari Sedati ke Nginden, waktu ikut pengajian kemarin saja ia muntah 4 kali.  Pulangnya 2 kali.  Kalau ke Jombang naik mobil tanpa aku, bisa teler berat gak keramut nantinya.  Ya sudah.  waktu puasa di rumah kami mamfaatkan untuk nyaur utang puasa dua hari.  Hari pertama, Idho pusing jadi puasa bedhug.  Wis gapapa.  Hari ini InsyaAllah kami puasa lagi, mudah-mudahan bisa kuat sampai maghrib.
Ohya.  Rencana ke TulungAgung masih belum terlaksana.  Aku agak sakit.  Biasa habis dapat proyek yang menyita energi.  Selain itu banyak cobaan juga.  Budhe Mur yang dulu mengasuh Ais waktu kecil tiba-tiba dikabarkan wafat.  Sakitnya sudah lama, tapi akhir-akhir ini tidak ada kabar trus meninggal.  Semoga arwah beliau ditempatkan sesuai amalnya.  Opa (mertua) juga sakit.  Sekarang masih di RS.  Jadi Ais ke Jombang itu karena ikut mengungsi Hanin dan Fiyan sepupunya karena gak ada yang ngramut.  Nenek jaga opa di RS, tante Emma lagi Umroh.  Makanya diungsikan ke Jombang ke tante Ita.  Ais yang kebetulan ada di rumah nenek, katut juga.

Wednesday, June 15, 2011

Menunggu Rapotan

Minggu-minggu ini anak-anak menunggu rapotan.  Di sekolah Ais, kalau ditanya, ngapain?  jawabanya adalah, pokoknya melakukan hal yang gak penting!  Nah, sudah kalau begitu.
Kalau di sekolah Idho, ada business day.  Hari Selasa, Idho minta dikulakkan Pop Mie.  Dari pengalaman yang lalu, Idho kalau jualan makanan gak pernah beres.  Hasilnya adalah bisa jadi 50% dagangan dimakan sendiri.  jadi kami hanya membelikan Pop Mie 5 buah.  Tapi begitu paginya dia agak panas badannya, kami malah melarangnya masuk sekolah, takut badan sudah gak fit, makan Pop Mie tak terkendali, bisa tambah parah dia.  ya sudah, lebih baik gak usah ke sekolah sekalian deh.
Minggu depan anak-anak mulai libur.  Kami punya ide besar mengisi liburan ini.  Mau silaturrahim ke TulungAgung, daerah asal Ibu dan Bapak Salim.  Disana masih banyak sepupu, pak lik, bulik yang jarang dikunjungi lagi karena sesepuh sudah meninggal.  Kami mau mendata lagi saudara-saudara agar tersambung kembali hubungan.  Apalagi sekarang kan ada henpon.  Yakin salah satu dari anggota keluarga di TulungAgung pasti punya.  Pokoknya nanti akan kusiapkan cengkorongan, list nama alamat dan nomor telpon.  Wah, membayangkan itu, asyik juga

Wednesday, June 1, 2011

Kegiatan Anak-Anak

Sudah lama tidak menulis.  Ais tengah bulan Mei ikut Lomba PMR.  Namanya Lompamar.  Kelompok Ais sih gak menang, tapi sekolahnya dapat juara umum.  Ikutan senang jadinya.  Namanya remaja, dari sekolah ke tempat lomba naik truk di bak belakang ya enjoy aja.  Sepanjang jalan teriak-teriak karena dapat juara umum.
Besoknya, Ais libur tiga hari karena ada libur bersama dadakan hari Senin.
Minggu kemarin kami ikut family gathering perbanas.  naik kapal, fery yang dihias, melintasi jembatan Suramadu. di waktu malam.  Cantik.
Sekarang  Idho ikut star wars di sekolah.  Ini istilah UAS di SD Al-Falah.  Yah, lumayan kemarin ibunya (aku) agak rajin nungguin dianya belajar.
Ais sih masih besok Jumat yang notabene harpitnas mulai UAS

Saturday, May 7, 2011

Ais Memasukkan Novelnya ke Pinkberry

Salah satu kemampuan Ais yang kami syukuri adalah ia gemar membaca dan akhirnya gemar menulis.  Tidak seperti Idho, gemar membaca tapi susah menulis. Tanggal 12 April 2011 lalu aku secara resmi mengirimkan karya Ais melalui pos ke alamatnya  
Redaksi Mizan 
Jalan Cinambo no.135 Cisaranten Wetan 
Ujung Berung Bandung 40294.   

Karena alamatnya tidak masuk dalam layanan express, maka akan sampai ke tangan penerima sekitar 5 hari.  Yo wis.  Katanya, dimuat atau tidaknya tinggal tunggu 3 bulan.  Yah mudah-mudahan bisa diterima, meskipun aku gak yakin.
Pasalnya, Ais bikin cerita dengan setting luar negeri.  Ia memang niat banget.  Untuk menamai lokasi dan situasinya, ia pake google map.  Jadi cukup valid deh.  Yang  kutakutkan adalah mungkin ada hal yang aneh dipenggambaran situasi karena dia tidak  tahu persis.  Wis pokoknya aku tetap bersyukur ia bisa betah menulis.  Lha wong aku nulis gak bisa jangkep karena suka berhenti ditengah jalan.

Idho sendiri sekarang berkembang dalam hal mengajiAku juga sangat bersyukur tentang hal ini, karena biasanya ia malas-malasan sehingga  satu halaman saja kadang baru bisa dapat L (LANCAR) dalam seminggu.  
Dalam minggu ini ia dapat 4 halaman L.  Artinya hampir tiap hari ia dapat satu halaman L.  Alhamdulillah.
Sebagai orang tua tentu saja aku mendorong anak-anak melakukan hal-hal yang positif. 

Thursday, April 21, 2011

Sakit Semua

Minggu-minggu ini adalah minggu paling berat bagi kami sekeluarga. Gimana tidak.  Aku, Ais dan Idho sakit semua dengan keluhan yang berbeda.  Aku sakit punggung nemen sampai akhirnya harus ke rumah sakit dan ikut terapi. Lumayan mahal je.  Untung ada cover asuransi.  Paling tidak sebagaian ada yang bantu bayar.  
Ais, biasa, sakit asma.  Ini susah hilangnya karena memang faktor turunan.  Alergennya adalah udara dingin.  Lah gimana lagi, udara dingin kan pemberian Allah, ya sudah diterima aja.  Sing penting usaha untuk menghangatkan diri dengan kemulan, minum air hangat, mandi air hangat dilakukan ditambah minum obat pereda sesak Teosal dan kadang ditambah Kalmektason.
Idho sakit batuk.  Untung tidak pake asma.  Tapi  batuknya berat.  Ya harus ke dokter.  Ternyata amandelnya membesar sehingga menekan dan menimbulkan batuk. Belum lagi dianya gak bisa diam. Jadi agak susah menyuruhnya istirahat.
Yang lucu pada dua anakku ini.  Ais, asmanya hanya pagi hari, karena itu siang dan sorenya sehat ya tak suruh latihan matematika.  Mungkin karena itu, dia tidak betah mbolos di rumah.  Untung lah.
Idho lain lagi.  Karena tahu hari ini adalah hari istimewa dia ngeyel mau sekolah, padahal batuknya belum sembuh.  Ternyata hari ini di sekolah ada Batik Day.  Idho mau ikut.  Karena kami tetap tidak membolehkan dia masuk, ayahnya memberi ide, gimana kalau Idho pake baju batik dan difoto.  Ternyata Idho setuju.  Jadi pagi-pagi dia mandi, pake baju batik, difoto, dicopot lagi, trus tidur.

Sunday, April 17, 2011

Pekan-Pekan Kompetisi

Periode April ini boleh dikata sebagai pekan-pekan kompetisi.  Idho masuk semifinal olimpiade KUARK.  Ingat, tahun lalu ia masuk Final.  Meskipun perlu bondo banyak, kami tetap berharap ia bisa masuk final lagi, ke Jakarta lagi.  Banyak pengalaman menyenangkan sih.  
Ais bahkan lebih ngebut lagi.  Ia sangat suka PMR dan ia masuk dalam tim lomba. Latihannya gila-gilaan.  Sabtu Minggu tetep latihan.  Dasarnya anaknya cinta PMR ya ok saja.  Bahkan kecele karena latihan ditunda juga  pernah.  Tahun lalu ia baru jadi penggembira karena masih kelas I awal.  Katanya sih tahun lalu juara II, jadi tahun ini mereka berusaha agar minimal tidak turun peringkat.  Begitu kalee.  Yo wis.  Aku sebagai ortu, mendukung 100% semua kegiatan anak asal positif.
Karena blog ini dimaksudkan untuk kenang-kenangan juga.  Makanya kutulis juga pengalaman tidak mengenakkan ini.  Beberapa hari yang lalu, terungkap semua ketidak sukaan ibuku pada suamiku.  Lha... ini kan membuatku seperti pelanduk yang mati di tengah-tengah.  Semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untuk kami semua